SIDOARJO, Fyi.co.id -Di tengah pesatnya derap industrialisasi di Kabupaten Sidoarjo, urgensi pembangunan yang selaras dengan kelestarian lingkungan menjadi isu yang tak terelakkan. Menjawab tantangan tersebut, Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik (Hima AP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) melalui Divisi Edukasi dan Advokasi sukses menggelar Forum Mahasiswa Berdiskusi (FORMASI) 3.0 pada Jumat (17/04).
Kegiatan berbentuk lokakarya yang bertajuk “Ekonomi Politik Hijau: Menuju Pembangunan Berkelanjutan yang Responsif di Kabupaten Sidoarjo” ini dilaksanakan di Kampus 1 UMSIDA. Sebanyak 95 peserta, mayoritas merupakan mahasiswa Administrasi Publik semester 2 dan Mahasiswa umum, tampak antusias memadati ruangan untuk mendalami arah pembangunan daerah yang lebih inklusif.
Sinergi Kebijakan dan Kritik Lingkungan
FORMASI 3.0 menghadirkan dua perspektif yang saling melengkapi: pemerintah dan aktivis lingkungan. Mewakili sisi regulator, Nawang Wulan, S.T., M.T. dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo menjelaskan bahwa dokumen perencanaan daerah saat ini telah mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan.
“Pemerintah daerah terus berupaya mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam kebijakan pembangunan. Proses ini berbasis pada dokumen kajian lingkungan hidup guna memastikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan daya dukung sumber daya alam,” jelas Nawang.
Di sisi lain, Romi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur memberikan catatan kritis terkait arah pembangunan yang selama ini dianggap terlalu berorientasi pada industri. Ia menekankan bahwa pembangunan bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan juga soal ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan pelibatan masyarakat.
“Kebijakan publik berdampak langsung pada warga. Oleh karena itu, peran masyarakat sangat krusial dalam pengambilan keputusan agar kebijakan yang lahir tidak merugikan lingkungan dan sosial dalam jangka panjang,” tegas Romi.
*Mahasiswa sebagai Agen Perubahan*
Ketua Pelaksana Kegiatan, Arin, menyampaikan bahwa pemilihan tema ekonomi politik hijau bertujuan untuk mengasah nalar kritis mahasiswa. Menurutnya, pendekatan ini mampu membedah relasi kekuasaan di balik kebijakan pembangunan, terutama di Sidoarjo yang kerap bergulat dengan isu pencemaran, alih fungsi lahan, dan ketimpangan sosial.
“Mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Kami berharap forum ini melahirkan gagasan konstruktif untuk mengawal kebijakan publik di daerah kita sendiri,” ujar Arin.
Senada dengan Arin, salah satu peserta, Eliza, menambahkan bahwa keberhasilan pembangunan hijau hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor. “Perlu ada sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi dalam menciptakan pembangunan yang benar-benar berkelanjutan,” ungkapnya.
Langkah Awal Kesadaran Kolektif
Diskusi yang berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan tajam dari peserta menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan. Melalui FORMASI 3.0, Hima AP UMSIDA berharap mahasiswa tidak hanya menguasai teori di kelas, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara nyata di masyarakat.
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pembangunan yang responsif terhadap masa depan. Ke depan, forum diskusi serupa akan terus digalakkan guna memperkuat peran mahasiswa dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berkeadilan bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Sidoarjo.


Tinggalkan Balasan