Oleh: Abdul Aziz
Warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK)
Setiap pertemuan antar manusia sesungguhnya telah berada dalam koridor ketentuan ilahi. Dalam pandangan takdir, kebetulan hanyalah cara manusia memahami rangkaian peristiwa yang hakikatnya telah tertata.
Karena itu, silaturahmi selalu menghadirkan nilai, dan kata-kata bijaksana kerap menjadi jembatan yang memperkuat persaudaraan.
Dalam rangkaian persiapan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Periode 2025–2029, saya berkesempatan bersilaturahmi kepada Kiai Miftachul Akhyar, Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa malam (2/12/2025) lalu.
Ini merupakan sowan kedua saya kepada beliau setelah pertemuan pertama pada sekitar 2014 di Pondok Pesantren Miftachussunah, Surabaya.
Kiai Miftachul Akhyar, putra Kiai Abdul Ghoni kelahiran 1953, merupakan ulama kharismatik yang menempuh pendidikan di sejumlah pesantren besar: Bahrul Ulum (Tambakberas), Darul Ulum (Rejoso), Sidogiri (Pasuruan), Al-Islah (Lasem), hingga Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (Malang).
Rekam jejak keilmuan dan pengabdiannya mengantarkan beliau menduduki posisi strategis di NU, mulai dari tingkat cabang hingga pusat.
Beliau juga pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2025 sebelum kemudian mengundurkan diri pada 2022 untuk fokus menjalankan amanah sebagai Rais Am PBNU.
Dalam pandangan saya, Kiai Mif, demikian beliau akrab disapa, merupakan sosok pemimpin yang berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan.
Kiai Mif tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan penting yang menyangkut kepentingan umat, melainkan selalu membuka ruang masukan dari para ulama dan berpegang pada syariat serta konstitusi organisasi. Kehati-hatian itu membentuk karakter kepemimpinan yang matang dan arif.
Penampilan beliau sederhana, penuh ketawadhuan, namun sekaligus tegas dalam menjaga prinsip-prinsip organisasi.
Kepribadian dan konsistensi tersebut turut mengantarkan namanya masuk dalam daftar tokoh muslim berpengaruh di dunia (2022) versi The Royal Islamic Strategic Studies Center dalam kategori Administration of Religious Affairs.
Ketika memasuki ruang beliau malam itu, Kiai Miftachul Akhyar segera berdiri, menyambut, dan mempersilakan saya duduk. Sikap rendah hati itu menunjukkan teladan akhlak yang tidak selalu dimiliki setiap tokoh. Tutur kata beliau lembut, tenang, dan tidak pernah meninggi.
Saya kembali memperhatikan ketenangan beliau dalam berdialog. Dalam berbagai situasi, termasuk yang penuh tekanan, Kiai Miftachul Akhyar tetap tampak stabil.
Bagi saya, ketenangan semacam itu mencerminkan kecerdasan emosional yang kuat sebuah kualitas penting bagi seorang pemimpin. Sebaliknya, reaksi impulsif dan mudah meledak biasanya menandai lemahnya pengendalian diri.
Menyadari padatnya agenda beliau dan banyaknya tamu yang menunggu, saya berpamitan. Di luar, gerimis turun di kawasan Kramat Raya. Para kader Banser berjaga dengan tenang seperti biasa.
Dalam langkah meninggalkan gedung PBNU, ingatan saya tertuju pada pesan Gus Dur yang relevan dengan hakikat kepemimpinan, sebagaimana tertulis dalam Coloteh Gus Dur (2017, hlm. 70).
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan harus diarahkan pada kemaslahatan dan kesejahteraan orang banyak.
Hal ini sejalan dengan kaidah fikih: Tasharrufu al-imâmi ‘ala ar-ra’iyyati manuthun bi al-mashlahati kebijakan pemimpin harus terkait langsung dengan kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya.
Untuk Nahdlatul Ulama yang kita banggakan, semoga terus berkhidmat bagi umat; merawat negeri dengan kebijaksanaan, dan berkontribusi secara progresif bagi kemajuan bangsa.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan