PASURUAN, Fyi.co.id – Gejolak di tubuh Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Pasuruan kembali mencuat. Sebanyak 19 kader perwakilan Pengurus Anak Cabang (PAC) menggelar Forum Informal Pra-Musyawarah Cabang (Pra-Muscab) pada Rabu (11/03/26) sebagai bentuk respons atas keresahan yang dinilai semakin menguat di kalangan alumni PMII Pasuruan.
Pertemuan yang berlangsung secara internal tersebut tidak hanya menjadi ajang konsolidasi kader, tetapi juga melahirkan sikap tegas berupa mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan karateker yang dianggap gagal menyelesaikan konflik organisasi yang telah berlangsung lama.
Sesepuh PMII Pasuruan, Ali Sodikin, menyebut pertemuan tersebut merupakan refleksi dari kegelisahan kader di tingkat akar rumput yang menilai kondisi organisasi sudah tidak berjalan sehat.
“Pertemuan ini itu internal meeting yang dilakukan oleh 19 kader perwakilan dari masing-masing PAC untuk menyikapi keresahan yang terjadi. Bahkan muncul mosi tidak percaya kepada karateker, karena berangkat dari Muscab yang pertama dulu itu sudah memaksakan kehendak,” tegas Ali Sodikin.
Ia menilai persoalan yang terjadi saat ini bukan fenomena baru, melainkan pola lama yang kembali terulang, yakni adanya upaya memaksakan arah kepemimpinan tanpa melalui proses organisasi yang demokratis.
“Dan hari ini ada upaya itu lagi dengan memaksakan kehendaknya kepada satu orang, dengan skenario satu orang. Ini tentu tidak bisa dibiarkan. IKA PMII Pasuruan tidak boleh dibajak oleh kepentingan segelintir orang,” ujarnya dengan nada keras.
Menurut Ali, konflik yang berlarut-larut selama bertahun-tahun telah membuat organisasi alumni PMII di Pasuruan kehilangan arah dan tidak mampu menjalankan agenda organisasi secara normal.
“Jadi sudah saatnya karateker itu membuat laporan untuk segera menyelesaikan kemelut di Pasuruan. Pertama, laporannya ke PB adalah menyerahkan mandat itu karena sudah tiga tahun berlarut-larut tidak bisa menyelesaikan Muscab,” jelasnya.
Ali juga menyoroti lemahnya konsolidasi struktur organisasi yang pada akhirnya memicu kebuntuan internal.
“Tentunya dengan melaporkan kepada PB bahwa pembentukan PAC sudah dilakukan, tetapi faktanya tidak mampu melaksanakan Muscab. Artinya ada kebuntuan organisasi yang harus diakui secara jujur,” lanjutnya.
Selain itu, munculnya faksi-faksi di dalam tubuh IKA PMII Pasuruan dinilai sebagai bukti bahwa konflik sudah tidak bisa lagi diselesaikan di tingkat daerah.
“Kemudian yang kedua, dengan pecahnya faksi di Pasuruan ini maka harus diambil alih oleh PB. Karateker di tingkat pusat harus turun langsung memimpin proses Muscab ini,” tegasnya.
Ali menegaskan, keterlibatan langsung Pengurus Besar IKA PMII menjadi langkah penting untuk menghentikan konflik yang selama ini terus membelah barisan alumni PMII di Pasuruan.
“Kalau tidak diambil alih oleh PB, maka konflik ini akan terus berulang. Yang terjadi bukan konsolidasi alumni, tetapi pertarungan kepentingan yang justru merusak marwah organisasi,” pungkas Ali Sodikin.


Tinggalkan Balasan