PASURUAN, Fyi.com -Situasi di Universitas Nahdlatul Ulama Bangil semakin memanas setelah pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang tergabung dalam aliansi “Sudut Kampus” melontarkan pernyataan keras terkait kondisi internal kampus. Mereka menilai UNU Bangil tengah berada di titik nadir akibat konflik dualisme kepemimpinan yang belum menemukan titik terang.
Dalam pernyataannya, salah satu perwakilan BEM menegaskan bahwa kampus yang seharusnya menjadi pusat moral dan intelektual kini justru terseret dalam konflik internal yang memicu ketidakpastian bagi mahasiswa.
“Universitas Nahdlatul Ulama Bangil sedang berada di titik nadir. Sebuah institusi yang seharusnya menjadi mercusuar moral dan intelektual, kini justru terseret dalam drama dualisme kepemimpinan yang memuakkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa aliansi mahasiswa “Sudut Kampus” telah “menabuh genderang perang” terhadap kondisi yang dianggap menyandera masa depan akademik mahasiswa.
Mahasiswa menyebut polemik ini bermula sejak 10 Maret 2026, saat BEM mencium adanya kejanggalan dalam tata kelola birokrasi kampus. Mereka kemudian mengirimkan surat desakan kepada tiga pembina yayasan, yakni H. Moch Shobri Suproyono, H. Moh. Najib Syaf, dan KH Abd Rochim, dengan tuntutan utama berupa kejelasan legitimasi kepemimpinan melalui pembaruan akta notaris yayasan.
Hasil penelusuran tim mahasiswa pada 21 April 2026 dalam forum audiensi (tabayun) justru mengungkap temuan yang dinilai janggal. Sosok yang saat ini menjabat sebagai rektor disebut tidak dapat menunjukkan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya. Sementara itu, pihak lain yang terdiri dari Pak Sami’, Gus Najib, dan Pak Wonadi justru disebut memegang dokumen resmi berupa SK dan akta notaris.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di kalangan mahasiswa mengenai siapa yang sebenarnya memiliki legitimasi untuk memimpin kampus. Bahkan, muncul dugaan adanya “rektorat bayangan” yang dinilai tidak memiliki dasar hukum yang jelas.
Sorotan juga diarahkan kepada Sudiono Fauzan atau Pak Dion. Dalam pertemuan pada 4 April 2026, ia dinilai tidak memberikan solusi saat dimintai klarifikasi oleh mahasiswa. Pernyataannya, “Emoh mas, tambah nambai ruwet,” justru dianggap memperkeruh keadaan.
Puncak ketegangan terjadi pada 9 April 2026 sekitar pukul 13.00 WIB, ketika ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi “Sudut Kampus” menggelar aksi di Kampus 2 dengan membawa delapan tuntutan utama. Mereka mendesak adanya kepastian hukum serta pembenahan birokrasi dari pihak-pihak yang dinilai tidak bertanggung jawab.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa turut menyoroti kehadiran sejumlah badan otonom Nahdlatul Ulama seperti Barisan Ansor Serbaguna, Lembaga Bantuan Hukum Ansor, dan Pagar Nusa yang disiagakan di lokasi. Kehadiran mereka dinilai tidak berkaitan langsung dengan substansi persoalan yang tengah diperjuangkan mahasiswa.
Aliansi mahasiswa menegaskan komitmennya untuk terus mengawal persoalan ini hingga terdapat kejelasan terkait legalitas dan kepemimpinan di lingkungan kampus, demi menjaga masa depan akademik serta integritas institusi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan