KOTA MALANG – Upaya penguatan kapasitas pengelola destinasi wisata terus dilakukan melalui QRISMA Festival 2026 yang digelar di Kajoetangan Heritage, Senin (4/5/2026).
Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang menitikberatkan pada peningkatan tata kelola Pokdarwis serta edukasi transaksi digital bagi masyarakat.
Perwakilan Disporapar Kota Malang, Baihaqi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi dengan Bank Indonesia dalam mendorong digitalisasi ekonomi di sektor pariwisata.
Selain memperkenalkan sistem pembayaran non-tunai, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat manajemen pengelolaan destinasi.
“Kegiatan ini bagian dari kerja sama dengan Bank Indonesia untuk menguatkan tata kelola destinasi, khususnya dari sisi keuangan dan kelembagaan,” ujarnya.
Menurut Baihaqi, penguatan Pokdarwis menjadi aspek penting karena mereka merupakan garda terdepan dalam pengelolaan wisata berbasis masyarakat.
Ia menambahkan, pihaknya terus melakukan pendampingan agar kualitas layanan dan sistem administrasi semakin baik.
“Kami terus mendorong Pokdarwis untuk meningkatkan layanan, termasuk dalam pengelolaan transaksi keuangan yang lebih tertib dan modern,” katanya.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat dan pengunjung juga menjadi fokus dalam kegiatan ini. Disporapar bahkan melibatkan pelajar sebagai agen edukasi untuk memperluas pemahaman tentang pentingnya transaksi non-tunai.
“Edukasi kami lakukan secara berkelanjutan, termasuk melibatkan siswa agar bisa ikut menyosialisasikan penggunaan transaksi digital kepada masyarakat,” jelas Baihaqi.
Ia menilai, pendekatan edukatif ini efektif dalam membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya literasi keuangan digital.
Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, diharapkan adopsi transaksi non-tunai dapat berjalan lebih cepat.
Baihaqi juga memastikan bahwa dorongan digitalisasi tidak hanya berhenti di Kajoetangan Heritage, tetapi akan diperluas ke berbagai destinasi wisata kampung lainnya di Kota Malang.
“Kami akan terus mengembangkan ini ke destinasi lain agar kualitas pengelolaan wisata di Kota Malang semakin merata,” tegasnya.
Melalui langkah ini, Disporapar berharap tercipta ekosistem pariwisata yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu meningkatkan daya saing destinasi wisata berbasis masyarakat di tingkat lokal maupun nasional.


Tinggalkan Balasan