Pemerintah Kota Malang mulai mengintegrasikan program kesehatan dengan pendekatan berbasis wilayah melalui penguatan peran RT Berkelas dalam menekan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta stunting. Upaya ini menjadi bagian dari strategi percepatan pembangunan manusia yang berkelanjutan.

 

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, menyampaikan bahwa program RT Berkelas akan diarahkan untuk mendukung intervensi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki potensi kasus tinggi.

 

“RT Berkelas merupakan implementasi dari RPJMD yang berfokus pada pembangunan manusia. Jika ditemukan wilayah dengan angka tinggi, maka intervensi akan diarahkan ke sana, termasuk untuk pendampingan kesehatan,” ungkapnya.

 

Ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya di sektor kesehatan. Dengan jumlah 57 kelurahan, Kota Malang dinilai memiliki potensi besar untuk mencapai target nol kasus.

 

“Kita ingin pemerataan pembangunan tidak hanya fisik, tetapi juga kesehatan masyarakat. Semua Puskesmas sudah dilengkapi fasilitas seperti USG dan tenaga medis, sehingga pemantauan kehamilan bisa dilakukan sejak awal,” jelasnya.

 

Ali juga menyoroti pentingnya evaluasi berkala untuk menentukan wilayah prioritas intervensi. Meski data potensi sudah tersedia, pendekatan yang lebih masif dinilai diperlukan agar penanganan lebih tepat sasaran.

 

“Setelah pencanangan ini, pemantauan akan lebih masif. Lurah dan camat akan dilibatkan penuh, bahkan ada komitmen bersama untuk memastikan tidak ada kasus yang terlewat,” katanya.

 

Meski belum menetapkan target waktu secara pasti untuk mencapai zero stunting, Pemkot Malang optimistis angka tersebut dapat ditekan secara bertahap. Saat ini, prevalensi stunting masih berada di angka 8 persen atau sekitar 2.800 kasus.

 

“Kita realistis, targetnya belum ditentukan, tetapi setiap tahun kita upayakan turun 3 sampai 5 persen. Dengan kolaborasi semua pihak, termasuk perguruan tinggi dan tenaga profesional, kita optimistis bisa mencapai nol dalam satu periode,” pungkasnya.