Program literasi keuangan untuk pelajar kembali diperkuat melalui inisiatif SimasTA (Simpanan Anak Sekolah Tugu Artha) yang digagas PT BPR Tugu Artha.
Dalam momentum puncak peringatan Hari Jadi Kota Malang ke-112, program ini ditegaskan sebagai langkah strategis membangun kebiasaan menabung sejak dini sekaligus mendorong kemandirian finansial generasi muda.
Direktur Utama PT BPR Tugu Artha, Lukman Nulhakim, menjelaskan bahwa program SimasTA sejatinya telah berjalan sejak 2023, namun mulai diperluas melalui kerja sama dengan sekolah-sekolah pada akhir 2024.
Hingga kini, sejumlah sekolah dasar telah menjalin nota kesepahaman, dan program mulai merambah ke tingkat sekolah menengah pertama.
“Program SimasTA sudah berjalan sejak 2023, dan sejak akhir 2024 kami mulai bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Harapannya, anak-anak bisa memahami pentingnya menabung dan mengelola keuangan sejak dini,” ujar Lukman.
Ia menambahkan, sistem layanan yang digunakan bersifat pick up service, di mana petugas bank secara berkala mendatangi sekolah untuk memfasilitasi setoran tabungan siswa.
Skema ini dinilai efektif karena memudahkan akses sekaligus menanamkan disiplin finansial tanpa mengganggu aktivitas belajar.
Dari sisi nominal, SimasTA dirancang inklusif dengan setoran awal ringan. “Setoran pertama cukup Rp10.000 tanpa biaya administrasi, selanjutnya siswa bisa menabung mulai Rp5.000 dari uang saku mereka,” katanya.
Selain fokus pada literasi keuangan pelajar, BPR Tugu Artha juga terus mendorong penyaluran kredit bagi pelaku UMKM. Hingga akhir 2025, nilai outstanding kredit tercatat mencapai Rp37 miliar dari modal disetor Rp15 miliar.
Namun pada triwulan pertama 2026, angka tersebut mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp35,5 miliar.
Menurut Lukman, penurunan ini bukan tanpa alasan. Pihaknya sengaja memprioritaskan penyelesaian kredit bermasalah sebagai bagian dari penguatan fundamental lembaga keuangan.
“Triwulan pertama kami fokus menyelesaikan kredit bermasalah, sehingga outstanding sedikit turun. Setelah ini, kami optimistis bisa mengejar target Rp40 miliar hingga akhir tahun,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam penyaluran kredit UMKM masih berkaitan dengan rekam jejak kredit debitur dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Status kolektibilitas menjadi pertimbangan utama sebelum kredit disalurkan.
Di tengah dinamika ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok, Lukman melihat adanya perubahan perilaku masyarakat yang cenderung lebih bijak dalam mengelola keuangan.
Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah nasabah pada produk tabungan musiman seperti Simpanan Hari Raya Idul Fitri (Sirafi).
“Masyarakat sekarang lebih pintar dalam mengelola keuangan. Mereka mulai menyisihkan pendapatan untuk kebutuhan ke depan, bukan semata karena daya beli turun,” ungkapnya.
Ke depan, BPR Tugu Artha juga tengah menjajaki potensi pembiayaan bagi segmen baru, seperti perangkat RT/RW di Kota Malang.
Skema ini masih dalam tahap pembahasan bersama pemerintah daerah, dengan harapan dapat membuka akses pembiayaan yang lebih luas sekaligus memperkuat peran BPR sebagai lembaga keuangan milik masyarakat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan